Sabtu, 19 November 2011

Hubungan Manajemen dan Budaya menonton Sepakbola


Saat ini sepakbola merupakan olahraga terfavorit di Indonesia. Seluruh lapisan masyarakat sangat antusias apabila menyaksikan pertandingan sepak bola, terutama apabila timnas Indonesia unjuk gigi di khalayak public Indonesia.

Terlebih lagi, saat ini tengah diselenggarakan pesta olahraga terbesar se-Asia tenggara atau yang sering kita kenal dengan nama SEA Games. Semangat para masyarakat Indonesia dalam memberikan dukungan sangatlah besar. Salah satu upaya yang dilakukan masyarakat adalah dengan memberikan support langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Mereka ingin menyaksikan langsung para pemain Timnas bermain untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia tercinta.

Namun antusiasme yang tinggi terhadap sepakbola Indonesia tidak diimbangi dengan manajemen yang baik oleh PSSI selaku pengelola stadion sehingga menyebabkan kelebihan kapasitas yang bisa merusak fasilitas-fasilitas yang ada di SUGBK. Hal ini seharusnya tidak terjadi apabila manajemen yang baik bisa terjadi di SUGBK. Semoga para pengelola bisa memperbaiki itu semua, sehingga hal-hal buruk yang bisa terjadi bisa kita hindari.

Budaya Pasar dan Manajemen


Pasar merupakan tempat yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan sehari-hari. Transaksi jual beli sudah membudaya dari zaman nenek moyang kita. Pada zaman dahulu, sistem perdagangan di pasar menggunakan system barter. Dan skg system itu sudah tidak digunakan lage. Alat bantu uang menjadi solusi tukar menukar barang.

Semua lapisan masyarakat terutama wanita nampaknya pernah atau bahkan harus pergi ke pasar untuk membeli keperluan-keperluan rumah tangga. Para pembeli pun setidaknya harus mampu memanaj pengeluarannya untuk dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Pembeli harus bisa memakai uang mereka untuk membeli kebutuhan yang penting-penting saja.

Bukan hanya dari segi pembeli, penjual pun mengalami hal serupa. Para penjual harus bisa mendatangkan keuntungan yang maksimal dari hasil barang dagangan mereka.  Para penjual harus bisa melihat kondisi harga barang di pasar, sehingga harga barang yang mereka jual tidak terlampau tinggi. Mereka hatus bisa memanaj harga barang dagangan mereka, supaya barang dagangan mereka bisa habis terjual.

Jadi dalam system pasar, manajemen amat sangat diperlukan sekali sehingga bisa mendatangkan keuntungan bagi penjual maupun pembeli. Kita sebagai salah satu pelaku dalam system pasar harus bisa menerapkan system manajemen yang baik, sehingga kita tidak mengalami kerugian.

Jumat, 18 November 2011

Budaya Batik

Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan. Kareena banyaknya kebudayaan-kebudayaan Indonesia tersebut, maka kita sebagai penerus bangsa memerlukan suatu ilmu pendidikan manajemen. Sebagai contoh kita mempunyai suatu kebudayaan batik. Belakangan ini batik sangat diidolakan oleh semua lapisan masyarakat. Bila dilihat dari ekonomi. Batik akan mendatangkan keuntungan yang sangat besar.

Oleh karena itu perusahaan yang ingin mengembangkan produksi batik sangat memerlukan suatu manajemen yang baik agar memperoleh keuntungan yang maksimal.

Terlebih lagi saat ini batik menjadi salah satu barang yang kontroversial karena seperti yang kita ketahui batik sempat diakui oleh negara lain sebagai kebudayaan milik negara ny. Hal ini membuat batik menjadi barang yang digemari sekaligus sebagai pembuktian bahwa batik adalah kebudayaan milik Indonesia.

Budaya Kemacetan Jakarta

Masyarakat Jakarta mungkin sudah bosan bila mendengar kata macet. Kemacetan lalu lintas di Jakarta memang sudah membudaya sekali dan sulit untuk dihilangkan. Ditambah lagi jalanan di ibukota Jakarta memang tidak bersahabat. Ini memperparah kondisi jalanan di ibukota.

Pemerintah DKI Jakrta selaku pemegang kendali di ibukota, harusnya bisa memanaj itu semua. Pemrov DKI Jakarta memang sudah banyak berusaha untuk mengurangi kemacetan tetapi cara yang dilakukan kurang maksimal.

Sebagai contoh, polisi sebagai bawahan pemrov DKI, masih belum sanggup untuk memanaj atau menata kendaraan yang lalu lalang di ibukota. Bahkan, polisi itu sendiri ikut memperparah kemacetan lalu lintas.

Pemrov DKI Jakarta juga harus memperbanyak fly over di persimpangan jalan agar kendaraan yang lalu lalang di tempat itu tidak terganggu dengan adanya lampu lalu lintas yang biasa menyebabkan kemacetan yang semakin parah.

Hubungan antara kemacetan dan manajemen memang sulit untuk dipisahkan. Polisi lalu lintas sebagai salah satu pihak yang bisa memanaj kekacauan itu semua diharapkan bisa mengurangi kemacetan lalu lintas. Kami semua mengharapkan ibukata DKI Jakarta bisa terbebas dari kemacetan.

Manajemen Budaya Transjakarta


Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita sulit untuk menyatukan kebudayaan dengan manajemen seperti contohnya pada salah satu alat transportasi yang sering kita temui yaitu Bus TransJakarta, Bus TransJakarta nampaknya adalah salah satu transportasi yang sangat digemari oleh masyarakat. Namun sayangnya manajemen dalam bus TransJakarta kurang begitu baik, kita sering menemui banyak ny penumpang yang tidak memperhatikan kebudayaan dalam mengantri yang baik, yang seharusnya dilakukan.

Sementara itu, dari pihak Trasjakarta pun tidak memanaj dengan baik antrian tersebut sehingga menyebabkan ketidakteraturan mengantri, selain itu pihak transJakarta juga kurang memanaj durasi keberangkatan dan kedatangan dari bus TransJakarta tresebut sehingga menyebabkan menumpuknya penumpang pada halte tertentu.

Manajemen dan kebudayaan yang tidak dijalankan dengan baik seperti ini akan terus menyebabkan TransJakarta menjadi transportasi yang dikenal masyarakat sebagai alat transportasi yang penuh dengan ketidakteraturan.

RAGAM KEBUDAYAAN DI INDONESIA


Kebudayaan di Indonesia sangatlah beragam, dari sabang sampai merauke menghadirkan kebudayaan yang berbeda-beda, mulai dari tarian tradisionalnya, bahasanya, makanannya, sampai berbagai kebiasaan-kebiasaannya.

Indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan seperti contohnya pada pulau Jawa, pulau Jawa tersendiri terbagi dalam beberapa wilayah, dan masing-masing wilayah memiliki kebudayaan yang berbeda seperti halnya Jawa Barat dan Jawa Timur. Jawa Barat lebih dikenal dengan makanan yang manis, tarian yang lembut seperti tari Jaipong. Sedangkan Jawa Timnur lebih terkenal dengan panganannya yang relatrif pedas dan tariannya yang sedikit lebih keras, seperti tari reog ponorogo.

Bukan hanya di pulau Jawa, pulau lainnya pun seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua memiliki wilayah yang berbeda sehingga pulau-pualu tersbut, juga mempunyai keberagaman kebudayaan yang berbeda pula. Hal itu menyebabkan Indonesia terkenal dengan negara yang kaya akan budaya. Maka sepatutnyalah kita bangga dan menjaga kebudayaan-kebudayaan kita dan terus menjaga serta melestarikan kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Kebudayaan Suku Minangkabau


Sebagaiman suku-suku lainnya di nusantara terutama Suku Batak, Suku Mandailing, Suku Nias dan Suku Tionghoa, Suku Minang juga terdiri atas banyak marga atau klan tapi menganut sistem matrilineal, yang artinya marga tersebut diwariskan menurut ibu. Di Minangkabau marga tersebut lazim dikenal sebagai ‘suku’. Pada awal pembentukan budaya Minangkabau oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang, hanya ada empat suku induk dari dua kelarasan. Suku-suku tersebut adalah:
    * Suku Koto
    * Suku Piliang
    * Suku Bodi
    * Suku Caniago
Dan jika melihat dari asal kata dari nama-nama suku induk tersebut, dapat dikatakan kata-kata tersebut berasal dari Bahasa Sansekerta, sebagai contoh koto berasal dari kata kotto yang berarti benteng atau kubu, piliang berasal dari dua kata pele dan hyang yang digabung berarti banyak dewa. sedangkan bodi berasal dari katabodhi yang berarti orang yang terbangun atau tercerahkan, dan caniago berasal dari dua kata cha(ra)na dan niaga yang berartiperjalanan anak dagang.
Demikian juga untuk suku-suku awal selain suku induk, nama-nama suku tersebut tentu berasal dari bahasa sansekerta dengan pengaruh agama Hindu dan Buddha yang berkembang disaat itu. Sedangkan perkembangan berikutnya nama-nama suku yang ada berubah pengucapannya karena perkembangan bahasa minang itu sendiri dan pengaruh dari agama Islam dan pendatang-pendatang asing yang menetap di Kerajaaan Pagaruyung.
Sekarang suku-suku dalam Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai ratusan suku, yang terkadang sudah sulit untuk mencari hubungannya dengan suku induk.